Selasa, 09 Juni 2009

Lama dipersimpangan, dari sebuah kenangan

Aku, yang telah lama berdiri di sebuah persimpangan.
Dan tak tahu harus kubawa kemana langkahku, telah melihat sebuah cahaya di satu sudut.
Hatiku lega, perasaanku gembira, pikiranku kembali tenang, hingga dengan langkah yang mantap aku berjalan ke arahnya.
Satu dua hari aku melangkah, dengan sedikit berisitirahat, sampai dekat dengan sumber cahaya, aku mendengar ia bertanya,
“Apakah kamu mencintaiku, sayang?”
Hatiku tergerak oleh perasaan gembira yang meluap, lalu aku menjawab,
“Engkaulah pelita hatiku, tanpamu aku akan tetap berdiri di sebuah persimpangan, tempat dimana aku harus memilih, padahal aku tidak memiliki kompas sebagai penunjuk jalanku.”
Seolah tidak mendengar jawabanku, cahaya itu kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku,
“Apakah kamu mencintaiku, sayang?”
Hatiku masih tergerak oleh perasaan gembira yang meluap, lalu aku kembali menjawab,
“Engkaulah harapanku yang menjadi kenyataan, tanpamu aku akan tetap berdiri di sebuah persimpangan, tempat dimana aku harus memilih, padahal aku tidak memiliki kompas sebagai penunjuk jalanku.”
Seolah tidak mendengar jawabanku, untuk yang ketiga kalinya cahaya itu kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku,
“Apakah kamu mencintaiku, sayang?”
Dengan hati yang penuh kegembiraan, melebihi dari rasa gembiraku sebelumnya aku menjawab,
“Jadilah engkau kekasih hatiku.”
Setelah jawaban ini, cahaya itu kemudian meneruskan pertanyaannya,
“Tapi aku bukanlah suku bangsamu, tempat kelahiranku bukanlah berasal dari kotamu, kepercayaanku bukanlah kepercayaanmu, dan bahasaku bukanlah bahasamu. Jika engkau ingin agar aku menjadi kekasih hatimu maka ikutlah engkau padaku.”
Penjelasan yang singkat namun memiliki tujuan yang jelas. Ibarat air laut yang tenang, dilanda petir menggelegar membuat ombak pun menjadi bergolak.
Air yang surut telah menjadi pasang.
Dengan terbata-bata, hilang kegembiraanku dalam sekejap, hatiku galau terus gelisah, aku menjawab,
“Wahai pelita hatiku, wahai cahaya harapanku, bagaimanakah dapat kutinggalkan bangsaku, aku lahir di kotaku, dan aku belajar berjalan di kotaku. Yang melahirkanku tinggal pada bangsaku, makanannya kucari dari tanah bangsaku. Kepercayaanku adalah saudaraku. Ia sudah sehidup semati denganku. Sedangkan bahasaku berasal dari nenek moyangku, dan nenek moyangku adalah asal dari lahirnya diriku. Semuanya begitu dekat dan berkaitan dengan kehidupanku, bagaimanakah aku dapat melepaskan diriku daripada mereka?”
Mendengar jawaban ini, perlahan cahaya itu mulai pudar, lama kelamaan menjadi hilang dan bersatu dengan pekatnya kegelapan, yang tersisa adalah suara penyesalan yang dalam dan keluhan yang mengibakan hati,
“Kalau demikian mengapa engkau berani meminta aku untuk menjadi kekasih hatimu? Apakah itu cinta, apabila tidak ada pengorbanan? Apakah itu cinta, apabila tidak ada keberanian? Tapi sampai kini pun aku masih tak mengerti, diriku atau dirimukah yang harus memiliki kerelaan? Sebab tidak mungkin bagi keduanya untuk berkorban, karena hanya ada satu jawaban diantara dua pilihan, engkau ikut denganku, ataukah aku ikut denganmu?”
Setelah suara itu hilang, kegelapan benar-benar membuat pandanganku buta, dan ketika aku sadar, kutemukan diriku kembali berada di sebuah persimpangan.


                                       Leonardo al-ghazi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar